Senin, 20 Februari 2012

Politik Belah Bambu


Tidak mengerti tentang definisi yang sebenarnya apa itu politik belah bambu, apakah sama dengan adu domba atau yang lebih populer dikenal dengan divide in vera. Bila kemaren malam, top topik tulisan difb adalah apa itu politik dengan berbagai macam pandangan, ada yang mengatakan bahwa politik itu adalah pembodohan, politik itu adalah sebuah alat dan sedangkan yang kutulis bahwa politik dalam pengertian sederhananya adalah cara. Apa sebenarnya politik itu sehingga banyak penafsiran-penafsiran itu muncul kepermukaan, ada baiknya kita baca dulu apa itu politik menurut beberaba sumber :
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:
  • politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
  • politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
  • politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
  • politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.
Sudah sedikit ada muatan materi di syaraf memori otak kita apa itu politik, lalu kita akan kembali mengupas apa itu politik belah bambu dan tentunya versi penulis sendiri. Politik belah bambu sejatinya adalah politik pecah belah, sebuah strategi dimana musuh akan menjadi lemah karena akan memusuhi kelompoknya sendiri jika politik belah bambu itu dilancarkan kepada kelompok tertentu. Mengapa ada perpecahan disuatu kelompok tentunya tidak hanya melihat daripada perbedaan pandangan mengenai sesuatu namun ada faktor lain yang menyebabkan perbedaan itu menjadi bumerang bagi kelompok itu sendiri. Suatu kelompok pasti sudah mempunyai visi dan misi untuk langkah-langkah kedepan dan jika kita kontekskan pada kelompok gerakan rakyat yang ingin mendapatkan haknya kembali maka gerakan kelompok rakyatpun akan membuahkan langkah-langkah itu dengan rapi dan tersistematis. Namun pada hari ini saya banyak mendengar bahwa bentrok antar kelompok masyarakat kian masiv (sering terjadi) dengan alasan yang sangat simple sekali “gara-gara sms” , “gara-gara adanya perkelahian antar kedua pemuda yang mabuk” dan kebutulan kedua pemuda tersebut dari desa yang berbeda. Bila kita melihat dari pendekatan kebudayaan orang indonesia pada umumnya, bukankah orang indonesia suka bergotong royong, mempunyai adat sopan santun yang tinggi, toleransi dan lain-lain. Namun sekali lagi mengapa bentrokan itu tetap terjadi dan yang menjadi soal adalah bagi mereka yang tidak tahu apa-apa harus menanggung getahnya rumah dibakar terpaksa mengunggsi dan lain-lain.

Ada apa dengan semua ini apakah benar ungkapan bahwa orang indonesia sudah meninggalkan budaya kebhenika tunggal ikanya atau ada faktor lain yang tidak menginginkan orang indonesia bersatu. Sekali lagi penulis akan menampilkan faktor politik disini, politik untuk mempertahankan keksistensian seseorang atau kelompok tertentu dalam mendapatkan kekuasaan/mempertahankan kekuasaan. Begitu mudah chaos/kerusuhan terjadi jika ada salah satu calon yang kebetulan kalah dan mengunakan massa simpatisannya untuk bersikap anarki fakta buram mengenai PILKADA indonesia diluar kelemahan penegakan supremasi hukum di Negeri ini. Hemat penulis bukankah yang didukung juga belum tentu setelah terpilih dan mempunyai kekuasaan akan mensejahterakan masa pendukung itu sendiri. Kembali kevisi bersama yaitu kesejahteraan maka kita akan paham bahwa kalah atau menang itu bagian yang harus diterima terpenting kesejajteraan itu harus diwujudkan dalam bentuk kongkret.
“ Musuh terberat adalah memusuhi saudara kita sendiri” salah satu ungkapan Bung Karno, walau kadang kalanya permusuhan itu sesuatu yang pasti. Bagi penulis sendiri politik belah bambu adalah politik kotor dan sangat busuk mengunakan tangan-tangan yang tidak berdosa untuk berbuat dosa. Ruang diskusi memang harus menjadi pedoman bersama dimana keterwakilan keinginan harus saling dihormati. Ada yang menuntut perubahan akan kondisi hari ini dan ada pula yang akan tetap mempertahankannya yaitu mereka disebut dengan kaum reaksioner. Musuh kita adalah kaum penindas (imprealis), maka bagi mereka yang tidak ikut merasa mengalami ketertindasan seharusnya peka dan mendukung pergerakan ini. Kita harus inggat siapa musuh kita sebenarnya yang mengakibatkan ketertindasan itu tetap terjadi, jangan sampai salah sasaran yang dimusuhi ternyata bukan musuh sejati. Sangat ironi memang kita memusuhi orang-orang yang tidak berdosa sedangkan para pendosanya dibiarkan tertawa puas karena melihat tingkah polah kebodohan kita sendiri. Persatuan itu sangat penting jika tanpa persatuan tentunya bangsa indonesia ini pasti tidak akan bisa berdiri walau sekarang hanya sekedar nama. Berhati-hatilah dalam menjaga tiap gerakan karena dimungkinkan saja akan ada penyusup yang akan masuk dengan membawa misi politik belah bambu. Sesuatu yang alamiah jika musuh rakyat yaitu para penindas tidak akan menghendaki persatuan rakyat. Teringgatku pada falsafah lama bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox populi, vox dei ) dan itu bisa terjadi jika rakyat bersatu.
Dibawah Langgit, Sang Penggoda, 29/1/2011;{11:39} WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar