Tampilkan postingan dengan label MATERI PENGGODA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI PENGGODA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

Relasi Produksi

Apa sebenarnya yang disebut dengan relasi produksi dimana dua suku kata tersebut menjadi satu diskursus[1] mengenai struktur kelas antara pekerja dan pemilik modal. Untuk mempermudah memahami tentang arti relasi produksi secara cepat dan sederhana yaitu dengan membagi dua suku kata tersebut menjadi satu-satu dan lalu didefiniskan. Relasi dalam Kamus Besar Indonesia[2] online menyebutkan “hubungan; perhubungan; pertalian: banyak -- (dng orang lain);. Sedangkan produksi adalah proses mengeluarkan hasil; penghasilan: ongkos -- barang;. [3] Kalau disambungkan antara dua suku kata tersebut bunyinya seperti ini relasi produksi adalah hubungan proses mengeluarkan hasil produksi.

Lalu apa hubungannya dengan struktur sosial dan kehidupan kita sehari-hari ?, ya...mungkin kita secara serampangan bisa mendefinisikan tentang relasi produksi dan tidak ada yang spesial untuk menjadi satu bahasan ataupun menjadi suatu diskursus. Penulis memulainya dengan sebuah sekelumit cerita bahwa penulis diminta kawan-kawan sarinah[4] untuk menyampaikan satu materi pendidikan tentang gerakan perempuan Indonesia. Mengingat GMNI pada sejarahnya menganut paham Bung Karno maka penulispun menggali informasi untuk dibagikan dalam materi tersebut, dimana Bung Karno sendiri pernah menulis satu gagasan tentang peran perempuan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dalam satu buku yang berjudul sarinah. Dalam buku sarinah tersebut Bung Karno membagi tiga tingkatan perjuangan yang harus dilalui oleh perempuan Indonesia dimana pada tingkatan yang ketiga Bung Karno menyampaikan “ Penindasan perempuan tidak bisa dilepas dari relasi produksi.”

Dua paragraf diatas sekiranya sudah cukup untuk membuka tulisan ini tentang relasi produksi. Pentingkah relasi produksi kita pelajari, penulis kemukakan penting karena kita akan mengetahui bagaimana sebenarnya posisi kita hari ini terkait produksi dalam satu pekerjaan. Relasi produksi mencoba mengurai hubungan antara pekerja dan pemilik modal, dimana dalam alam kapitalis pekerja diposisikan sebagai komoditas atau sumber bahan baku. Mengapa begitu, sebagai manusia yang diberi ide atau pikiran akan selalu memerlukan barang-barang dari hasil produksi untuk mempermudah dirinya. Barang-barang yang diproduksi merupakan sasaran kerja, dan untuk mencapai sasaran kerja itu dibutuhkan alat kerja, metode kerja dan tenaga kerja. Dalam alam masyarakat kapitalis alat kerja dimiliki kaum kapitalis. Buruh bekerja berdasarkan sistem kerja upahan, dimana hasilnya seluruhnya menjadi milik kaum kapitalis.

Dalam proses produksi manusia memerlukan dan mengadakan hubungan antara yang satu dengan yang dengan yang lainya. Hubungan antara manusia dalam proses produksi itu disebut hubungan produksi. Hubungan produksi itu ditentukan oleh pemilik alat produksi, kemudian keseluruhan hubungan produksi menentukan suatu sistem ekonomi masyarakat. Sistem ekonomi pada hakikatnya merupakan sistem masyarakat dan sebagai basis kehidupan masyarakat yang diatasnya berdiri bangunan atas.

Pekerja menjadi komoditas atau bahan baku oleh pemilik modal, satu sistem ekonomi yang lekat dibenak kita adalah dimana mengeluarkan modal sedikit dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dari paham inilah petaka itu berasal dimana seharusnya antara pemilik modal dan pekerja itu harus sama-sama mendapatkan keuntungan namun dengan paham ini keuntungan hanya untuk pemilik modal. Upah para pekerja di batasi sedemikian rupa dihitung dan diakumulasikan sebagai proses produksi. Saat upah pekerja itu murah maka keuntungan akan berlipat ganda. Tenaga yang dihasilkan oleh pekerja statusnya tidak berbeda dengan alat produksi, manusia diposisikan sebagai mesin.

Maka adanya sebuah kewajaran jika para pekerja selalu menuntut upah yang layak dan para pengusaha selalu akan memberitakan bahwa jika upah pekerja dinaikan maka akan menganggu proses produksi dan bisa-bisa gulung tikar alias bangkrut. Dua kutup yang berbeda ini disebut dengan kontradiksi pokok, dimana yang kalah akan tetap mengalami nasib yang sama tanpa ada perubahan yang berarti.

Relasi produksi yang ideal adalah dimana sasaran kerja yang meliputi alat kerja, metode dan tenaga kerja dimiliki bersama. Bersama-sama berkerja sama-sama mendapatkan keuntungan. Jika sistem ini sampai pada waktu demikian maka kita telah masuk dalam dunia baru. Dimana dunia baru disebut Bung Karno : Masyarakat yang adil dan sejahtera, tidak ada eksploitasion antar manusia, maupun antar Negara, tidak ada kemiskinan dan kapitalisme, tidak ada perbudakan, serta tidak ada lagi perempuan yang sengsara. Degan kata lain: suatu tatanan masyarkat yang penuh keadilan dan kesejahteraan, di mana laki – laki dan perempuan sama – sama merdeka dan sejahtera.

Sahabatmu,
selalu berbagi,
@Aryo Sang Penggoda, 10:56, Kamis, 7/11/2013




[1] Secara umum, diskursus (sering juga disebut wacana dalam bahasa Indonesia) berarti cara khas dalam berbahasa atau menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun lisan. Kelompok masyarakat tertentu menggunakan bahasa secara khas. Orang-orang kedokteran, misalnya, mempunyai diskursus sendiri yang berbeda dengan orang-orang hukum, lihat : http://teori-teori.blogspot.com/2009/01/foucault-speak-diskursus.html
[3] Ibid.
[4] Sebutan kader perempuan di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

Rabu, 15 Mei 2013

Pengorganisasian Adalah Sebuah Pekerjaan Yang Mulia



Banyak yang masih mengalami sebuah kebuntuan mengajak rekannya yang lain untuk bergabung dalam sebuah organisasi. Tidak jarang hal tersebut mengakibatkan prustasi, lalu timbullah sebuah kesimpulan bahwa mereka yang tidak mahu diajak bergabung dalam organisasi adalah kepala batu dan apatis. Kesimpulan yang sangat terlalu dini, kesimpulan yang mengakibatkan kita menyerah tunduk kepada keadaan. Pada dasarnya yang kita anggap kepala batu dan apatis itulah tantangan yang sesungguhnya. Dimana tantangan ini harus diselesaikan bukan malah dijauhi karena tujuan pengorganisasian adalah perubahan.

Perubahan sangat luas sekali maknanya tidak hanya untuk orang lain namun juga untuk kita sendiri. Perubahan tentang cara, perubahan tentang praktek mengajak orang lain yang tidak mengenal lelah sampai perubahan itu benar-benar terjadi.

Pada waktu yang lalu saya selalu bertanya bagaimana caranya mengajak orang lain untuk  masuk dalam organisasi dimana saya ada didalamnya. Disetiap sesi tanya jawab materi tentang keorganisasian pertanyaan itu selalu saya lontarkan namun jawaban saya dapat tidak pernah memuaskan hati saya. Namun ketidakpuasan itulah memotivasi saya selalu untuk giat belajar, giat membaca untuk meninggatkan kesadaran saya sendiri  betapa pentingnya berorganisasi.

Prustasi memang akan terjadi jika kita tidak pernah mengevaluasi langkah-langkah yang sudah kita jalankan. Kita hanya mengalami sebuah kebingungan dan seakan-akan tidak ada jalan keluar dari sebuah permasalahan yang kita hadapi. Berarti langkah yang kita gunakan selama ini salah, teori yang kami pakai juga salah? jawabanya belum tentu karena pertanyaan selanjutnya seberapa konsistenya kita, seberapa disiplinya kita berjalan dijalan yang kita lalui. Semua harus dimulai dari niat dan bahwa kita mampu menyelesaikan, bahwa kita mampu mengorganisasikan keyakinan mereka yang kepala batu dan apatis.

Penolakan, olokan, caci maki dan sebagainya pasti kita akan mendapatkanya, lalu apa yang harus kita lakukan menyerah atau bersabar dengan terus berusaha. Bukankah pekerjaan pengorganisasian wujudnya seperti itu, penuh tantangan, penuh dengan penolakan-penolakan. Kita harus membedakan memobilasi dengan mengorganisasikan, memobilisasi hanya untuk mengajak kepada hal-hal yang bersifat jangka pendek sedangkan mengorganisasikan sifatnya tidak terbatas waktu bahkan untuk seumur hidup kita.

Perbedaan Manusia dan Binatang

Apa perbedaan manusia dan binatang? manusia mempunyai pikiran sedangkan binatang tidak. Lalu untuk apa pikiran itu? yaitu untuk menaklukan alam. Mengapa dinosaurus telah punah dan mengapa manusia masih ada dibumi ini? dinosaurus tidak bisa menaklukan alam sedangkan manusia bisa menaklukan alam dengan pikiranya.

Pengorganisasian memerlukan pemikiran yang komprehensif, dimana pemikiran-pemikiran itu diawali dengan sebuah pertanyaan. Mengapa saya harus mengorganisasikan?, mengapa saya harus masuk organisasi?, mengapa saya harus terus menurus mengorganisasikan?. Secara terus menurus kita harus menciptakan pertanyaan itu kepada diri kita sendiri lalu kepada orang lain dan pertanyaan akan mengirim kita pada sebuah jawaban. Jawaban bersumber dari mana, yaitu bersumber dari praktek yang akhirnya menjadi sebuah teori.

Seseorang yang mengabdikan dirinya dalam lingkar pengorganisasian harus paham secara terang mengapa dia harus mengorganisasikan sebanyak-banyaknya orang dengan akal serta pikirannya.

Antara Cinta, Karier dan Organisasi

Manusia tidak luput tiga kata diatas baik secara langsung maupun tidak yaitu cinta, karier dan organisasi. Tiga bagian ini tentunya merupakan bagian-bagian yang berbeda begitupula definisinya. Gambaran ketiga karakter ini terkadang membuat seseorang organisatoris mengalami kesusahan berkaitan yang mana harus didahulukan dan mana yang bagian belakangan. Seorang organisatoris harus bisa membagi waktunya kedalam ketiga karakter tersebut. Ada waktunya untuk mengikuti perkuliahan untuk menunjang karier kedepan, ada juga waktu untuk berkomunikasi dengan lawan jenis untuk bicara tentang sandaran dikehidupan ini dan yang terakhir berbicara tentang waktu pengorganisasian.

Seseorang organisatoris harus mampu mengimplementasi sebuah pelajaran tentang managemen, tentang pengaturan, tentang penjadwalan dan tentang kedisiplinan. Kita bisa mengevaluasi mulai sekarang tentang langkah-langkah yang sudah dijalankan bagian mana dari ketiga karakter itu yang paling menguras waktu selama ini. Khususnya berkaitan dengan pengorganisasian dalam waktu satu hari ini sudah beberapa orang yang anda temui untuk proses disadarkan tentang penindasan-penindasan. Sudah sampai berbusakah perkataan anda tentang kebobrokan negara ini, tentang mahasiswa yang tidak pernah merdeka untuk memilih pemikirannya sendiri.

Banyak hal  yang bisa untuk bahan pembicaraan untuk sebuah penyadaran betapa penting masuk dalam organisasinya. Di organisasi kita akan belajar tentang banyak hal tentang kepemimpinan, tentang mangamen, tentang bagaimana kita harus mampu melanjutkan kehidupan ini saat anda lulus dari kuliah.

Pembagian waktu yang tepat akan membuat anda hidup selamat.

Pengorganisasian Adalah Sebuah Pekerjaan Yang Mulia

Pengorganisasian itu sebuah pekerjaan inilah motivasinya, layaknya anda bekerja disebuah perusahaan atau kantor pemerintahan maka anda harus melakukan aktivitas berupa pencatatan, analisis, evaluasi dan laporan. Namun pengorganisasian mempunyai sisi yang berbeda karena apa, didalam pengorganisasian anda mengajak orang untuk berbuat baik.

Masih ingatkah anda tentang kisah para Nabi tentang penyebaran agamanya. Bagaimana perlakukan orang-orang baru terhadap para Nabi tersebut, apakah mudah atau sebaliknya. Sekarang tugas para Nabi ditangan kawan-kawan, berusaha dengan penuh semangat pasti semuanya akan membuahkan hasil.

Jadi, tidak boleh mengeluh atau kebingungan jika anda benar-benar ingin mengabdikan diri disisa umur anda untuk organisasi. Terus berpraktek karena hanya itu yang dapat membantu anda dalam menemukan jawaban bagaimana caranya mengajak orang untuk masuk kedalam organisasi.

Selamat Mencoba dan Selalu berbagi.

Sahabatmu Aryo N.Waluyo

Minggu, 16 Desember 2012

Manifesto Bung Karno Terhadap Gerakan Perempuan Indonesia (Menyambut Bulan Hari Ibu)


Mungkin sebagian khalayak ramai mengetahui sang proklamator selalu diindentikan dengan perempuan namun dalam ranah istrinya banyak (baca: lebih dari satu), bahkan konon katanya hampir diseluruh wilayah Indonesia Bung Karno memiliki isteri bahkan sampai keluar Negeri. Terlepas opini ini benar atau tidak, tujuan tulisan ini adalah memberikan sisi yang berbeda atas pandangan Bung Karno terkait gerakan perempuan Indonesia yang secara gamblang dijelaskan dalam bukunnya dengan judul Sarinah.

Buku Sarinah sengaja diterbitkan oleh Bung Karno ditujukan sebagai rujukan atas peran perempuan untuk secara bahu-membahu bersama kaum laki-laki untuk menuju dunia baru. Dalam teks Sarinah, dunia baru, merupakan istilah yang di gunakan Bung Karno untuk menggambarkan : Masyarakat yang adil dan sejahtera, tidak ada eksploitasion antar manusia, maupun antar Negara, tidak ada kemiskinan dan kapitalisme, tidak ada perbudakan, serta tidak ada lagi perempuan yang sengsara. Degan kata lain: suatu tatanan masyarkat yang penuh keadilan dan kesejahteraan, di mana laki – laki dan perempuan sama – sama merdeka dan sejahtera.

Sedangkan mengenai judul buku sarinah, Bung Karno dalam bukunya yang lain yaitu “ Penyambung Lidah Rakyat”, menceritakan Sarinah sebagai gadis pembantu yang membantu membesarkan Bung Karno. Tetapi, kata Bung Karno, kata pembantu rumah tangga di sini tidak sama dengan pengertian orang di barat. Selain mengurusi Bung Karno kecil, Sarinah pula yang memberikan pendidikan budi-pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan kepada Bung Karno. “Sarinah mengadjarku untuk mentjintai rakjat. Massa rakjat, rakjat djelata,” ujar Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis oleh penulis dan kolumnis Amerika, Cindy Adams.

Sosok Perempuan Pejuang Indonesia

Dalam buku Sarinah Bung Karno ingin menggugah kesadaran para perempuan Indonesia yang pada saat itu telah memasuki babak pengisian kemerdekaan. Beliau mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk segera insyaf dan ikut serta dengan segera dalam perjuangan. Dan Bung Karno mengutip seruan seorang tokoh pergerakan dari Spanyol yaitu La Passionaria yang menyerukan bahwa perempuan-perempuan Spanyol untuk menjadi revolusioner maka Soekarno ingin juga mengatakan :” Hai Perempuan-perempuan Indonesia, jadilah revolusioner,- tiada kemenangan revolusioner, jika tiada perempuan revolusioner, dan tiada perempuan revolusioner, jika tiada pedoman revolusioner!”.

Ucapan diatas merupakan suatu variant dari ajaran yang mengatakan bahwa ;”Tiada aksi revolusioner, jika tiada teori revolusioner”.”Teori tak disertai perbuatan, tiada tujuan, perbuatan tiada pakai teori, tiada berarah tujuan”. Dari ungkapan ini teringat kita akan doktrin yang diungkapkan oleh Kierkegaard yang mengatakan bahwa manusia harus selalu mewujudkan anggan-anggannya atau cita-citanya atau ada proses menjadi, dengan kata lain jangan kita melulu membicarakan teori tanpa mempraktekannya tanpa berani membuktikan kebenaran dari teori tersebut.
Revolusi merupakan suatu gerakan yang bertingkat dan masing-masing tingkatan harus dilalui satu persatu, tidak bisa satu tingkatan tidak dilalui atau satu tingkatan dijalankan bersamaan dengan tingkatan yang didepannya. Masing-masing tingkatan yang hadir terlebih dahulu merupakan dasar atau fondasi bagi tingkatan revolusi didepannya. Adapun elaborasi tingkatan itu dijelaskan oleh Bung Karno :

Tingkat pertama, perempuan berusaha menyempurnakan “keperempuanannya” (Bung Karno menggunakan tanda kutip di bukunya). Kelihatannya, “keperempuanan” di sini dapat diartikan sebagai cara-pandang umum masyarakat—tentunya dalam masyarakat patriarchal—mengenai kodrat perempuan, seperti memasak, menjahit, berhias, bergaul, memelihara anak, dan sebagainya. Meskipun sudah mendirikan perkumpulan, dan anggotanya seluruhnya perempuan, tetapi mereka belum menyinggung soal hak-hak perempuan. Mereka tidak menyinggung sedikitpun patriarkisme dan ekses-eksesnya. Kalaupun mereka mendirikan sekolah bagi perempuan, lagi-lagi itu tidak lebih sebagai bentuk “pembekalan” agar perempuan siap berkeluarga. “Sekolah-sekolah mereka tak ubahnya sekolah-sekolah berumah-tangga di zaman sekarang. Mereka mendidik wanita agar laku di kalangan pemuda bangsawan dan hartawan,” ungkap Bung Karno. Pelopor gerakan ini, tulis Bung Karno, adalah Madame de Maintenon di Perancis dan A. H Francke di Jerman. Gerakan ini, ungkap Bung Karno, tidak memberikan penyadaran kepada perempuan. Gerakan ini masih tunduk pada hukum patriarchal, yang merendahkan martabat kaum perempuan.

Tingkatan kedua, pergerakan perempuan yang menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki, khususnya dalam melakukan pekerjaan dan hak pilih dalam pemilu. Gerakan ini sering diberi label “emansipasi perempuan”. Bagi Bung Karno, kelahiran gerakan tingkat kedua ini tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme. Ia menjelaskan, perubahan corak produksi, dalam hal ini dari feodalisme ke kapitalisme, turut mengubah anggapan-anggapan (cara-pandang) di dalam masyarakat, termasuk cara pandang terhadap perempuan. Kapitalisme butuh menarik perempuan keluar rumah agar menjadi buruh di pabrik-pabrik kapitalis. Pelopor gerakan tingkat kedua ini adalah Mercy Otis Waren dan Abigail Smith Adams di Amerikat Serikat; Madame Roland, Olympe de Gouges, Rose Lacombe, dan Theorigne de Mericourt di Perancis. Sekalipun, harus diakui, diantara mereka ini punya metode berjuang yang berbeda. Mercy Otis Waren dan Abigail Smith Adams, misalnya, ketika penyusuna konstitusi AS pada tahun 1776, mereka menuntut agar kaum perempuan diberi pengakuan dan tempat di dalamnya, seperti hak mendapat pendidikan dan terlibat dalam kekuasaan politik.

Di Perancis, gerakan perempuan berwatak lebih radikal. Perempuan-perempuan Perancis mengambil bagian dalam Revolusi Perancis (1789). Madame Roland, seorang perempuan kalangan atas, yang pemikirannya banyak mempengaruhi pemimpin politik Perancis. Ia menuntut partisipasi perempuan yang lebih luas. Kemudian ada Olympe de Gouges, mewakili perempuan kalangan bawah, yang tulisan dan pemikirannya secara tajam menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Bung Karno memuji Olympe de Gouges sebagai perempuan radikal dan militan, yang berani menentang pemerintahan teror Robespiere. Pergerakan ini lebih banyak bertumpu pada “persamaan hak” dalam segala hal, termasuk dalam urusan politik. Dalam ekspresi gerakannya, kata Bung Karno, lebih banyak mempersoalkan dominasi laki-laki.

Namun, Bung Karno menganggap gerakan ini sebagai tipe gerakan perempuan borjuis. Sebab, bagi Bung Karno, sekalipun nantinya segala ruang itu dibuka bagi perempuan, termasuk politik, tetap saja yang menikmati hanya perempuan klas atas dan menengah. Sedangkan perempuan kebanyakan, yakni dari kalangan rakyat jelata, tidak bisa berpartisipasi. Bagi Bagi Karno, selama relasi produksi tidak berubah, maka perempuan kalangan bawah tetap saja sulit berpartisipasi penuh dalam politik. Persamaan hak saja tidaklah cukup, jikalau perempuan masih terhisap di dalam relasi produksi kapitalistik. Maka, lahirlah gerakan perempuan tingkat ketiga:gerakan perempuan sosialis.

Tingkatan ketiga ini, yakni pergerakan perempuan sosialis, di mata Bung Karno, merupakan penyempurnaan terhadap gerakan perempuan. Di sini, gerakan perempuan tidak sebatas menuntut persamaan hak alias penghapusan patriarkhi, tetapi hendak merombak total struktur sosial yang menindas rakyat—laki-laki dan perempuan.
Bung Karno banyak merujuk pada ahli teori Marxis, Frederick Engels, dalam buku berjudul “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara”. Karena itu, Bung Karno beranggapan, penindasan perempuan tidak bisa dilepas dari relasi produksi. “Semakin penting kedudukan perempuan dalam produksi, maka semakin penting pula kedudukannya di dalam masyarakat,” katanya.

Bung Karno juga banyak dipengaruhi oleh Clara Zetkin dan newsletter propagandanya, Die Gleichheit. Bung Karno memahami perlunya menyeleraskan perjuangan pembebasan perempuan dan perjuangan untuk sosialisme. Dia berpendapat, perempuan yang bekerja, seperti juga laki-laki yang bekerja, menderita di bawah jam kerja yang panjang dan upah yang rendah. Karena itu, kepentingan keduanya identik, yakni menghapuskan kapitalisme dan mendatangkan sosialisme.

Terkait partisipasi perempuan di parlemen, Bunh Karno berusaha menarik perbedaan antara feminis liberal dan gerakan perempuan sosialis: “kaum feminis dan suffragette itu menganggap hak perwakilan itu sebagai tujuan akhir, sedangkan wanita sosialis menganggapnya hanya sebagai salah satu alat semata dalam perjuangan menuju pergaulan hidup baru yang berkesejahteraan sosial (sosialisme).” Dalam konteks Indonesia, Bung Karno menganggap gerakan perempuan sebagai aspek penting bagi kemenangan revolusi menuju sosialisme. Ia mengutip pendapat Lenin: “Jikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan tidak mungkin kita capai.”

Diakhir buku Sarinah Bung Karno mengajak kaum perempuan untuk menyadari keberadaannya, dan tidak ada yang dapat membantu perempuan jika bukan datang dari dalam diri mereka sendiri. Kesadaran harus muncul dari dalam diri kaum perempuan sehingga mereka sadar akan kewajiban dan hak untuk bebas. Dan dengan munculnya kesadaran akan eksistensi perempuan dalam pembangunan dan perjuangan maka secara bahu membahu bersama laki-laki bekerja sama dalam emwujudkan suatu persatuan nasional guna mencapai sutau masyarakat sosialis yang utuh.

Ucapan Bung Karno yang perlu menjadi perenungan kaum perempuan Indonesai saat ini adalah :” Perempuan Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional. Jangan ketinggalan didalam revolusi Nasional ini dari awal sampai akhirnya, dan jangan ketinggalan pula nanti didalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial. Didalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti menjadi perempuan yang bahagia, perempuan yang merdeka.”

Dari penjelasan diatas maka dapat dilihat bahwa ide pokok dari penulisan buku Sarinah ini, Bung Karno ingin mengangkat peran perempuan yang pada awalnya kurang begitu berperan, dan ini dibuktikan dengan perkembangan sejarah dan keadaan perempuan diberbagai negara.

Lalu maukah perempuan menentukan/merubah nasibnya, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing.

Aryo Nugroho.W
Anggota Biasa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cab, Kota Palangka Raya

Senin, 15 Oktober 2012

KEDAULATAN PANGAN SEBAGAI PENENTU HIDUP MATI BANGSA



“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka”; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner (Ir. Soekarno)”.

Pernyataan Ir. Soekarno diatas mengenai pangan sebagai persoalan soal mati-hidupnya suatu bangsa memang tidak ada salahnya, kenyataannya ketiadaaan pangan yang mengakibatkan bencana kelaparan sudah mewabah ke berbagai Negara di penjuru belahan dunia. Kelaparan sebagai indikasi tindasan terhadap hak atas pangan masih berlangsung di mana-mana bahkan bertambah buruk saja. Sebagai contoh India adalah negeri dengan jumlah penderita kelaparan tertinggi didunia, disusul oleh China. 60% dari total penderita kelaparan di seluruh dunia berada di Asia dan Pasifik, diikuti oleh negeri-negeri Sub-Sahara dan Afrika sebesar 24%, serta Amerika Latin dan Karibia 6% (lihat tabel). Setiap tahun orang yang menderita kelaparan bertambah 5,4 juta. Juga setiap tahunnya 36 juta rakyat mati karena kelaparan dan gizi buruk, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada World Food Summit (WFS) Food and Agriculture Organization (FAO) bulan November 1996 di Roma, para pemimpin negara/pemerintah telah mengikrarkan kemauan politik dan komitmentnya untuk mencapai ketahanan pangan serta melanjutkan upaya menghapuskan kelaparan di semua negara anggota dengan mengurangi separuhnya jumlah penderita kekurangan pangan pada tahun 2015.  Menurut FAO pada tahun 1996 terdapat 800 juta dari 5,67 milyar penduduk dunia yang menderita kurang pangan, diantaranya 200 juta balita menderita kurang gizi terutama energi dan protein.  Laporan PBB juga mencatat bahwa 3 – 5 ribu orang mati setiap hari akibat kelaparan dan dampaknya.  Angka ini lebih besar lagi terjadi di negara – negara Sub Sahara – Afrika, negara – negara miskin dan didaerah yang terlibat konflik perang.

Di Indonesia ancaman kelaparan dan kekurangan gizi pada bayi dan balita telah menjadi persoalan yang sampai hari ini belum bisa terselesaikan oleh negara.  Contoh kasus, data Dinas Kesehatan Kota Bogor menunjukkan 317 balita (bayi dibawah tiga tahun) di Bogor kekurangan gizi, hal ini akibat tidak mempunyai orang tua anak tersebut memenuhi kebutuhan pangan akibat kemiskinan, karena penghasilan yang tidak menentu seringkali anak – anak tersebut hanya makan 1 hari sekali (kompas, 17 April 2002).  Kasus lain, di Kab. Kutai, Kalimantan Timur, yang dikenal dengan kabupaten kaya raya, ternyata banyak memiliki warga yang miskin, terutama didaerah pedalaman yang hanya menggantungkan hidupnya dengan makan 1 hari sekali (Kompas, 16 April 2002)

Walaupun saat ini ancaman kelaparan itu belum begitu meluas, akan tetapi untuk kasus Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil, karena pada saat inipun Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat besar tergantung pangannya dari luar negri (Food Trap).  Saat ini Indonesia berada dalam status rawan pangan, bukan karena tidak adanya pangan tetapi lebih karena pangannya tergantung dari pihak lain. 

Solusi Ketergantungan Pangan Bangsa

Ketergantungan pangan Indonesia dari pihak asing sebenarnya bisa diatasi dengan jalan diversifikasi dan ketahanan pangan. Indonesia sebagai salah satu Negara dengan kekayaan dan keragaman hayati sumberdaya alam terbesar didunia sudah seharusnya memanfaatkannya sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat dan menjadi negara pengekspor produk hasil olahan diversifikasi pangan terbesar di dunia dalam rangka mengatasi krisis pangan dunia.

Pemerintah melalui Dinas Pertanian terkait sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi krisis pangan dalam negeri dengan jalan pengembangan produk pertanian dan diversifikasi pangan seperti yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2025, namun kenyataan yang ada di lapangan belum menunjukkan hasil yang maksimal terbukti dengan langkah pemerintah mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan beras dalam negeri. Padahal Indonesia sebagai Negara agraris sudah seharusnya menjadi Negara yang mandiri dalam hal mencukupi kebutuhan pangan rakyat.

Upaya diversifikasi pangan sebagai salah satu solusi mencukupi kebutuhan pangan pun terus dilakukan oleh pemerintah dengan program pengembangan diversfikasi olahan produk seperti pengembangan produk umbi-umbian sebagai pengganti beras sebagai makanan pokok, pengembangan produk olahan sukun sebagai jajanan sehat masyarakat dan masih banyak lagi. Namun, kenyataannya masyarakat masih “enggan” untuk beralih dari beras.

Selain upaya diversifikasi, seharusnya pemerintah juga mengedepankan upaya edukasi terhadap masyarakat terkait paradigma baru ketahanan pangan Indonesia sehingga masyarakat dapat segera menyadari urgensi ketahanan dan kemandirian pangan bangsa. Menurut UU No.7 tahun 1996, Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dari pemaparan UU tersebut sudah sangat jelas bahwa salah satu indikator ketahanan pangan adalah terpenuhinya kebutuhan pangan yang baik bagi masyarakat secara aman, merata dan terjangkau. Oleh karena itu, pemahaman ketahanan pangan sebagai langkah awal menuju kedaulatan pangan menjadi sangat penting.

Kebijakan Strategi Pangan 2010-2014

Keberhasilan kedaulatan pangan bangsa tentu tidak lepas dari yang namanya kebijakan strategi pangan. Berikut akan dipaparkan beberapa langkah strategis kebijakan strategi pangan 2010-2014 dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia:

1.      Memantapkan ketahanan pangan sebagai paradigma baru masyarakat
Dengan adanya paradigma ketahanan pangan tersebut maka segala upaya yang dilakukan pemerintah dapat terlaksana secara maksimal karena adanya dukungan penuh dari pihak masyarakat sehingga dapat memberikan hasil sesuai seperti yang diharapkan yaitu terciptanya ketahanan pangan dalam negeri. Selain itu, dengan adanya  ketahanan pangan dapat menjamin ketersediaan pangan berbasis produksi dalam negeri (mandiri) sehingga ancaman krisis pangan yang sempat muncul ke permukaan seperti kelangkaan kedelai, impor beras, impor gula, kelangkaan cabai, dan melabungnya harga kebutuhan pokok dapat segera teratasi serta merintis terciptanya sistem pertanian yang modern, aman, efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

2.      Pengembangan infrastruktur pertanian
Pengembangan infrastruktur pertanian seperti penyediaan alat-alat pertanian, pupuk organik, aliran air irigasi, dan benih tanaman mutlak diperlukan petani agar mampu mewujudkan pertanian yang berkelanjutan sehingga dapat berdampak positif pada produktivitas hasil pertaniaan. Apabila infastruktur pertanian tidak kunjung dilengkapi bukan tidak mungkin dapat berdampak pada ketidakseimbangan ekonomi dalam negeri yang dapat mengakibatkan inflasi akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok di pasaran yang disebabkan karena produktivitas hasil pertanian yang belum mencukupi kebutuhan pangan masyarakat.

3.      Pengembangan diversifikasi pangan
Diversifikasi sebagai solusi strategis mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia memegang peranan yang cukup vital bagi terpenuhinya kebutuhan pangan dalam negeri. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk menggerakkan roda industri diversifikasi pangan di Indonesia salah satunya dengan membangun dan memperkuat industri pengolahan pangan di Indonesia. Dewasa ini sudah banyak industry-industri pengolahan pangan yang berdiri di Indonesia namun masih belum mendapat perhatian dari pemerintah sehingga banyak industri-industri tersebut yang gulung tikar karena tidak sanggup bertahan dari serangan globalisasi yang semakin marak. Padahal, peran industri-industri tersebut cukup vital sebagai pengatur dan pengelola komoditas pengolahan pangan dalam negeri.

4.      Kebijakan perdagangan yang berpihak pada kepentingan nasional
Petani kita sudah berupaya untuk melaksanakan kewajibannya untuk memnuhi kebutuhan pangan kita namun, apa daya segala sesuatunya sudan ada kebijakan dari pusat sehingga kebijakan ini menjadi penting apabila kebijakan tersebut berpihak kepada rakyat dan petani. Kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama dalam hal mewujudkan kedaulatan pangan. Oleh karena itu, pengaturan kebijakan baik dalam hal perdagangan maupun pemasaran produk hasil pertanian harus mengedapnkan kesejahteraan masyarakat.

5.      Penetapan regulasi retail modern
Pada zaman modern seperti sekarang ini banyak supermarket atau pasar modern bermunculan di segala penjuru daerah memangsa pasar-pasar local dan membatasi akses pemasaran potensi alam daerah. Pemerintah seharusnya membuat regulasi terkait pengaturan lokasi atau tempat dibangunnya pasar modern tersebut agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat local yang sedang mengadu nasib berdagang menjual hasil potensi alam daerah di pasar local tersebut. Selain itu, penetapan regulasi terkait penetapan harga komoditas hasil pertanian juga perlu dilakukan agar para petani dapat menjadi kompetitif dalam bersaing.

Kedaulatan Pangan Sebagai Penentu Hidup Mati Bangsa

            Ketahanan pangan menjadi kunci pokok kedaulatan pangan yang menjadi sendi pokok pemantapan kedaulatan negara. Apabila ketahanan pangan dalam negeri sudah berjalan secara teratur, aman dan merata hingga ke pelosok daerah sudah bisa dikatakan bahwa Negara Indonesia telah berhasil mewujudkan kedaulatan pangan. Tetapi apabila hal tersebut belum bisa dilaksanakan bukan tidak mungkin Negara Indonesia bakal menemui krisis pangan dan krisis Negara yang berlarut-larut.

            Pemerintah haruslah membuka sejarah pemenuhan pangan bangsa ini. Bahwa sejak Indonesia merdeka, rakyat petani dengan basis pertanian keluarga telah berhasil memenuhi hingga 90 % kebutuhan pangan nasional. Angka produksi tersebut dapat dicapai oleh petani Indonesia walaupun kekurangan lahan karena desakan konversi lahan, tanpa dukungan infrastruktur berarti, pencemaran, kerusakan lingkungan dan pengurangan hingga penyelewengan pada subsidi benih dan pupuk.

            Persoalan pangan bagi bangsa indonesia, dan juga bangsa – bangsa lainnya di dunia ini adalah merupakan persoalan yang sangat mendasar, dan sangat menentukan nasib dari suatu bangsa, karena ketergantungan pangan dapat berarti terjadinya terbelenggunya kemerdekaan bangsa dan rakyat terhadap suatu kelompok, baik negara lain maupun kekuatan – kekuatan ekonomi lainnya. Oleh karena itu, apabila persoalan kedaulatan pangan ini tidak ditindaklanjuti dengan serius oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait maka akan menjadi ‘malapetaka’ bagi masyarakat dan juga Negara karena kedaulatan pangan memegang peranan hidup dan matinya suatu bangsa.

Referensi
1.      Syahrul, Ahan. 2011. Politik Kedaulatan Pangan. URL: http://suar.okezone.com/read/2011/05/30/58/462302/58/politik-kedaulatan-pangan. Diakses  tanggal 12 September 2011. 16.13.
2.      WALHI. 2011. Kedaulatan Pangan Adalah Pondasi Kedaulatan Bangsa. URL: http://www.walhi.or.id/id/ruang-media/siaran-pers/1052-kedaulatan-pangan-adalah-pondasi-kedaulatan-bangsa. Diakses pada tanggal 12 September 2011. 15.45.
3.      Arisyaoran Blos, http://arisyaoran.wordpress.com/2012/05/01/kedaulatan-pangan-sebagai-penentu-hidup-mati-bangsa-2/. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2012.10.10