Rabu, 12 September 2012

Manajemen di Balik Pertanian Dayak Meratus


Manajemen di Balik Pertanian Dayak Meratus
Oleh: Dr Ir Abdul Haris Mustari MSc, Dosen Fakultas Kehutanan IPB

Banyak pengalaman berharga diperoleh Tim Ekspedisi Khatulistiwa ketika berada di Pegunungan Meratus. Yang istimewa adalah menyaksikan manajemen di balik sistem pertanian mereka yang tradisional.

Suku Dayak yang mendiami Pegunungan Meratus menamai diri mereka Dayak Meratus.  Bagi mereka, bercocok tanam adalah sumber utama penghidupan. Penduduk asli Kalimantan ini menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, singkong, keladi, pisang, ubi dan berbagai jenis palawija yang menunjang kehidupan sehari hari.  

Padi adalah paling utama karena menjadi makanan pokok.  Padi dalam bahasa Dayak Meratus disebut banih, setiap nama padi didahului dengan kata banih.  

Bagi orang Dayak, padi bukan sekedar makanan pokok tetapi menjadi jenis tanaman yang disakralkan.  Menurut kepala adat di Kampung Manakili, Imar, padi adalah pemberian langsung Sang Dewata atau Sang Hyang yang sangat penting bagi mereka.

Padi  diperlakukan istimewa, mulai dari  penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan, bahkan setelah dipanen dan disimpan di lumbung, padi tetap diperlakukan istimewa.  

Padi ditanam pada lahan kering dengan sistem perladangan berpindah dengan rotasi bervariasi lima sampai 10 tahun.  Lokasi perladangan atau pahumaan,  mulai dari dataran rendah sampai lereng-lereng terjal di perbukitan dan pegunungan, bahkan sampai ke lerengan sekitar 70 derajat. Padi menguning di puncak dan lereng gunung adalah pemandangan umum di sekitar pemukiman Dayak Meratus.

Orang Dayak sering diidentikkan dengan  suku terbelakang, penuh kehidupan mistis, hidup mengembara dan berburu, namun jangan lupa mereka sangat maju dalam metode pertaniannya.  Mereka memanfaatkan benda-benda astronomi seperti matahari, bulan dan bintang sebagai pedoman  dalam bercocok tanaman.   

Secara turun temurun ilmu membaca benda-benda astronomi itu didapatkan dari leluhur mereka. Mengaji adalah istilah Dayak Meratus untuk berguru, atau bertanya, betakon, kepada orang-orang tua. Ilmu Dayak  itu tidak tertulis melainkan melalui lisan.  

Juli dan Agustus adalah waktu membersihkan lahan dari tumbuhan berkayu dan semak belukar, bertepatan dengan musim kemarau.  Akhir September ketika puncak musim kemarau, dilakukan pembakaran tumbuhan dan semak belukar, kadar air tumbuhan yang telah ditebang berada pada titik terendah,  karena itu lebih mudah dibakar.  

Sisa pembakaran bahan organik itu menjadi pupuk alami atau organik tanaman padi dan palawija, sehingga tidak diperlukan pupuk buatan lagi.  

Ketika matahari mulai bergeser ke arah selatan menjauh dari garis khatulistiwa, pertanda  harus mulai menugal, yaitu membuat lubang tanam benih padi menggunakan tongkat kayu yang ujungnya runcing. Menugal dilakukan secara gotong royong.
Waktu menugal harus melihat posisi munculnya bola kuning sang mentari di waktu pagi yaitu sekitar sepuluh derajat Lintang Selatan.  Pada posisi itu, matahari memberi tanda  bahwa penanaman padi harus segera dimulai. Dan posisi  matahari itu sesungguhnya tidak sulit dibaca oleh orang Dayak, karena mereka menggunakan pedoman puncak-puncak gunung tertentu  di lingkungan mereka dimana matahari muncul, dan ini dibaca dan diwariskan secara turun temurun.  

Berbeda ketika menugal dan menanam padi yang dilakukan secara gotong royong, panen dilakukan sendiri oleh keluarga yang bersangkutan.  Orang Dayak menggunakan kumpai (bambu kecil bulat yang sisinya ditajamkan),  dan ranggaman (anai-anai) untuk memanen padi.  

Bagi  Dayak Meratus, memanen padi lahan kering harus menggunakan kedua alat tradisional itu, kecuali padi sawah.  Penggunaan sabit dan mesin perontok gabah tidak diperbolehkan, dianggap pemali dan tabu, dan apabila pemali itu dilanggar, akan menyebabkan sakit.  

Hari pertama  panen harus dilakukan oleh perempuan yang sudah berkeluarga, yaitu ibu rumah tangga dari keluarga itu.  Hari kedua dan seterusnya perempuan gadis dapat membantu. Keterlibatan laki-laki diperbolehkan mulai hari keempat dan seterusnya sampai panen selesai.    

Agar gabah tidak diserang serangga perusak, mereka menggunakan bahan tradisional, yaitu daun tumbuhan sungkai (Veronema canescen) dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan lalu dicampurkan ke dalam gabah yang disimpan pada lulung.  Dengan campuran daun sungkai itu, gabah tahan disimpan beberapa tahun, tidak dimakan dan dirusak serangga.  

Orang Dayak memiliki persediaan padi melimpah.  Beberapa keluarga Dayak bahkan  memiliki persediaan padi yang disimpan lima sampai tujuh tahun lalu.  

Padi yang baru dipanen setelah acara Mahanyari dan telah dimakan untuk pertama kali sebagi simbol bahwa hasil panen padi tahun ini telah dapat dinikmati, disimpan di lumbung. Sedangkan untuk dikonsumsi sehari hari adalah padi yang dipanen beberapa tahun lalu.  
Suatu pembelajaran mengenai sistem ketahanan pangan.  Dayak memiliki ketahanan pangan yang tinggi, sehingga seperti ucap mereka: “kami tidak memiliki banyak uang, tapi sugih banih/padi” adalah benar adanya.  Dayak Meratus sangat jarang menjual beras, lebih baik disimpan bertahun tahun, padi dianggap sakral.  

Namun demikian orang Dayak sangat ramah dan suka memberi beras, termasuk untuk peserta ekspedisi, sering diberi beras oleh mereka ketika berada di kampung, terlebih ketika selesai menghadiri acara Mahanyari dan Aruh, pasti rombongan dibekali beras dan lamang.

“Kapan kembali ke Jakarta, saya akan membawakan beras Buyung, oleh-oleh dari kami” kata Rudinar dari kampung  Kiyu menawarkan kepada kami peserta eskpedisi.  

Beras adalah barang berharga, dan sangat layak sebagai oleh-oleh, apalagi beras buyung yang sangat harum dan enak rasanya, demikian yang ada di benak Rudinar, pemuda yang telah menjadi guide kami mendaki Gunung Halau Halau Meratus, dan selama kami  menginap di Balai Adat Kampung Kiyu. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar